Resensi Novel Ancika


By : Ika Farida (Farid)

Judul            : Ancika

Penulis         : Pidi Baiq

Penyunting   : Estu Ayu Budihapsari dan Ilham Miftahuddin

Penerbit        : Pastel Books

Terbit           : Agustus 2021

Tebal           : 340 hlm

Genre           : Fiksi

ISBN            : 978-602-6716-89-7

 

Tentang Isi

Ancika, yang saya tahu sebelumnya buku berjudul Ancika ini akan diterbitkan setelah buku berjudul Milea yang terbit tahun 2016. Bahkan saat itu di laman sosial media juga sudah beredar cover dari buku Ancika ini. Seingat saya warnanya pink fanta dan untuk gambarnya masih sama dengan sampul yang sekarang. Saya kira Ancika akan terbit paling lama berselang satu tahun setelah Milea. Saya sudah menunggu-nunggu bagaimana kisah selanjutnya seorang Dilan. Apakah akan kembali bersama Milea Adnan Hussain atau malah berakhir dengan Ancika. Yang dulu kuingat Dilan menyebutnya sebagai “Rabu”. Yah memang nama panjang dari Ancika, yaitu Ancika Mehrunisa Rabu.

Dan betapa bahagianya saya sebagai penggemar novel, mendengar kabar bahagia dari ayah Pidi Baiq yang sudah menerbitkan buku Ancika di tahun 2021 ini.

Ancika adalah judul sebuah buku lanjutan dari seri Dilan 1990, Dilan 1991 dan Milea. Ancika Mehrunisa Rabu. Atau yang kerap dipanggil Amer. Orang kedua yang menceritakan semua tentang Dilan. Novel ini menceritakan secara detail bagaimana seorang Ancika yang saat itu masih duduk di bangku SMA bertemu dengan Dilan yang sudah berkuliah di ITB pada tahun 1995.

Sebelum bertemu Dilan, Ancika ditaksir teman SMA nya yang bernama Bono. Bono dikenal sebagai anak geng motor dan siswa yang paling ditakuti di SMA nya. Tetapi Ancika sama sekali tidak merasa takut dengan Bono. Ancika juga berani mengingatkan kalau Bono mengganggu dirinya.

Orang kedua yang diperkenalkan dalam buku ini adalah Bagas. Ancika dan Bagas bertemu karena mereka mengikuti les di tempat yang sama. Sehingga mereka saling mengenal. Tidak hanya Bagas, melainkan dua teman lainnya Iksan dan Ipul. Karena sering bertemu di tempat les, semakin lama Bagas selalu perhatian terhadap Ancika yang didukung oleh kedua temannya tersebut. Bagas sudah menunjukkan ketertarikannya kepada Ancika, mulai dari menawarkan untuk mengantar pulang, mengajak nonton dan juga kegiatan lainnya. Tetapi sebaliknya Ancika hanya menganggap teman baik saja.

Bersama dengan pertemuannya dengan Bagas, Ancika juga mengenal Yadit. Keponakan suami Bi Opi. Bibi Ancika. Yadit juga merasa ada ketertarikan kepada Ancika yang baru ia temui di acara pernikahan saudaranya. Tapi Ancika hanya merespon sebagai bentuk rasa kesopanan dan tidak menyinggung perasaan Yadit.

Pertemuan selanjutnya, pertemuan pertama Ancika dengan Dilan. Pertemuan ini bukanlah pertemuan yang menyenangkan bagi Ancika. Tapi pertemuan yang menjengkelkan menurut Ancika. Karena Dilan dianggap mengganggunya pada saat ia mengunjungi Abah, kakek Ancika. Dilan memanggil Ancika dengan sebutan “kak” dan mengajak untuk berkenalan. Dan pada saat itu Ancika belum mengetahui kalau yang menyapanya adalah Dilan yang selama ini ia dengar dari mang Anwar. Adik dari ibu Ancika.

Ancika dan Dilan masih belum dipertemukan tapi cerita-cerita tentang Dilan sudah banyak ia dengar ketika ia di dekolah. Bahkan Mang Anwar pun menawarkan agar Ancika agar belajar dengan Dilan yang tidak lain kawan Mang Anwar. Pertemuan berlanjut setelah Dilan membantu Ancika membuat resensi buku yang dikerjakan oleh Dilan malah berisi tentang Ancika, dan suadah ia bacakan dengan lantang di depan teman sekelasnya. Pertemuan berlanjut sampai pada hubungan yang bisa dibilang tanpa status tapi mereka berdua menikmatinya. Sering kali Dilan ke rumah Ancika untuk belajar bersama, terkadang juga menjeput Ancika saat pulang sekolah saat Dilan mempunyai waktu senggang dan sampai pada saat mereka bersepakat untuk berpacaran.

Ancika menceritakan begitu detail bagaimana pertemuannya dengan Dilan. Ancika juga menceritakan bagaimana kelakuan Dilan pada awal pertemuannya. Sesuatu yang aneh yang tidak pernah dia lalui sebelumnya. Dilan selalu punya cara dan kesan pertama yang membuta Ancika selalu mengingatnya. Meskipun itu bukan sesuatu yang baik. Dilan juga selalu punya cara untuk meminta maaf kepada Ancika ketika dilan melakukan kesalahan. Dari cerita Ancika diketahui bahwa Dilan di tahun 1995 adalah sosok Dilan yang berbeda dari tahun 1990 dan 1991. Ancika banyak mendengar cerita-cerita tentang Dilan yang negatif mulai dari anak geng motor dan juga kerap kali berhubungan dengan polisi. Tapi Ancika tidak begitu saja percaya dengan apa yang dia dengar. Bagi Ancika Dilan adalah sosok yang bisa membaur dengan siapapun termasuk dengan Abah, kakek Ancika. Juga dengan mama, papa dan adik Ancika saat Dilan berkunjung ke rumahnya.

Dilan juga mungkin bisa melakukan hal buruk seperti apa yang dibilang temannya Iksan suatu ketika. Tapi sekali lagi bagi Ancika Dilan adalah sosok yang akan mengakui kesalahannya apabila dia melakukan sesuatu yang salah dan tidak akan menghindar. Menurut Ancika Dilan sudah lebih dewasa dari sebelumnya. Dilan sudah menurunkan egonya agar tidak selalu bersama teman-teman geng motornya. Bukan berarti Dilan tidak mau bergaul dengan temannya lagi. Melainkan hanya menyeimbangkan hubungan pertemannanya dengan hubungan pribadinya bersama Ancika. Dan itu membuat hubungan Ancika dan Dilan bertahan lama sampai pada jenjang pernikahan. Meskipun suatu ketika saat Ancika dan Dilan jalan bersama dan bertemu Milea yang ternyata sudah menikah dan mempunyai seorang anak. Setelah pertemuan itu, Ancika mulai bertanya-tanya apakah Dilan Masih memiliki perasaan terhadap Milea, yang pernah menjadi kekasihnya. Namun kemudian ancika percaya bahwa yang lalu sudah berlalu.

“Dia memang punya masa lalu, tetapi saya punya Dilan”.

-Ancika_

Itulah sebuah pernyataan yang mempunyai arti mendalam bagi Ancika untuk Dilan

         

Tentang Buku

          Ditinjau dari cover, sangat menarik karena sudah menunjukkan bagaimana Ancika digambarkan dalam novel ini. Ancika bukan perempuan yang feminin ataupun tomboy hanya saja dia lebih menyukai sesuatu yang praktis. Novel ini layak dijadikan sebagai hiburan karena isinya yang begitu ringan dan menceritakan kehidupan anak muda pada era 90an yang tentunya berbeda dengan kondisi saat ini. Kekurangan dalam novel ini, yang diceritakan hanya sosok Dilan saat bersama Ancika. Namun Dilan tidak menceritakan secara mendetail juga bagaiman seorang Ancika dimata Dilan. Hal ini membuat penasaran para pembacanya.

Terima kasih saya persembahkan kepada penulis, karena dengan karya ini pembaca dapat terhibur, Semoga penulis segera menerbitkan karya-karya lainnya dalam waktu dekat.


 

Previous Post
No Comment
Add Comment
comment url