Belajar Ikhlas Melalui Sedekah
Selasa, 08
Oktober 2019
15 : 30 WIB
Belajar Ikhlas Melalui Sedekah
Assalamu’alaikum
Warahmatullahi Wabarakatuh....
Hari ini
berjalan seperti biasanya. Tidak ada rutinitas yang berbeda ataupun kegiatan
tambahan. Hanya saja ada beberapa informasi yang baru saya dapatkan tadi malam
tentang perubahan jadwal mengajar. Sebenarnya sama saja hanya pergantian kelas
yang agak rumat karena harus riwa-riwi dari Kampus Putra dan Kampus Putri
ataupun sebaliknya. Maklum, jumlah guru di Sekolah tempat saya mengajar gurunya
terbatas dan bisa dibilang kurang. Dengan beban jumlah mapel yang bertambah
karena integrasi dari mapel pondok dan sekolah reguler yang dijadikan satu
waktu mulai dari pukul 07.00 hingga pukul 12.25. Sehingga semua guru harus ikhlas
dan legowo dengan pembagian jadwal yang memang sudah diutak-atik sedemikian
rupa agar sesuai dan tidak tumpang tindih dengan jadwal yang sama. Terkadang
tiga jam pertama di Kampus Putri dan empat jam selanjutnya harus pindah ke
Kampus Putra atah sebaliknya. Yah... inilah konsekuensi yang harus kita jalani
sebagai pengajar di Yayasan yang sama tapi dibedakan antara puta dan putri.
Siang
berlalu, bel mata pelajaran berbunyi. Anak-anak berteriak kegirangan karena jam
sekolah sudah selesai. Begitupun apa yang saya katakan dalam hati.
“Alhamdulillah... tugas hari ini terselesaikan. Anak-anak mulai bersiap
mengemasi bukunya ke dalam tas. Kemudian berdoa. Setelah selesai, saya berjalan
melewati kantor Kepala Sekolah dan menuju ke kantor guru. Disana sudah tersaji
makan siang untuk guru dan karyawan Yayasan. Ada beberapa guru dan karyawan
yang sudah mengambil jatah makan siang. Ada juga yang asyik berbincang dan
ketawa-ketiwi bersama. Sayapun langsung menanggapi topik yang sedang mereka
bicarakan. Tidak ada yang spesial, hanya saja kita menikmati apa yang kita
diskusikan sekarang. Tentang beban mengajar, tentang gaji ataupun tentang
masalah-masalah pribadi. Kita dekat, tidak tersekat. Tua muda jadi satu membaur
dan saling memberi nasihat selayaknya keluarga. Tidak dekat, namun selalu ada
di saat senang maupun susah.
Sudah satu
jam lewat, kita menunggu jam pulang yang sudah ditentukan oleh Kepala Sekolah
pada saat rapat bahwa jadwal pulang untuk guru-guru adalah pukul 14.00 tepat.
Tak lama kemudian ada kabar di grup W.A kita, ada teman yang terkena musibah. Lebih
tepatnya, anaknya opname di Rumah Sakit Umum setempat karena Diare.
Informasinya sudah sejak hari minggu lalu di Rumah Sakit. Salah satu dari teman
mengajak untuk menjenguknya bersama-sama tanpa ada janji yang matang. Akhirnya
kita saling bertanya dan menunggu jawaban di grup W.A, tapi tak kunjung ada
balasan. Salah satu dari kita mendapat jadwal untuk mengajar bimbingan belajar
tampahan mata pelajaran Bahasa Indonesia. Dua lagi beranjak ke putra dengan
tugas yang sama. Tinggalah kita berlima.
Tanpa babibu
beranakatlah kita menuju Rumah Sakit yang sudah diinformasikan. Setelah
beberapa menit, kita sampai di tempat parkir, dan menunggu dua teman yang
sedang berboncengan. Ternyata Allah telah menunjukkan jalan. Selesai memarkir
motor, saya melihat teman yang anaknya dirawat di Rumah Sakit ini ada
dibelakang saya. Alhamdulillah tanpa harus mencari kita sudah langsung bertemu
orangnya. Sambil menunggu dua teman yang lain, kita sedikit berbincang tentang
bagaimana keadaan putranya. Tidak lama kemudian teman yang kita nanti pun
datang. Masuklah kita ke rumah Sakit melalui pintu belakang dan sampailah di
kamar Melati yang memang tempat khusus untuk anak-anak.
Dari luar
kamar tampak orangtuanya yang menyambut kita dari kejauhan. Beliau juga minta
maaf jikalau merepotkan. “Ah.... ini bukan apa-apa bagi kita”. Batinku. Kita
malah senang setidaknya dengan kita hadir disitu, kita bisa merasakan bagaimana
kesedihannya apabila salah satu anggota keluarga kita ada yang sakit. Atau
mungkin hanya sekedar sebagai penghibur ketika butuh teman seperti biasanya di
Sekolah. Ataupun kita bisa memberikan sedikit bantuan yang mungkin dapat
meringankan walau sedikit.
Sebelum menuju Rumah Sakit, kita
memang sepakat jika menggunakan dana sosial untuk sedikit meringankan beban
teman seprofesi kita. Tapi saya tahu pasti diantara kita ada yang memberikan
sumbangan secara pribadi kepadanya. Sempat terlintas juga saya ingin
menyumbangkan beberapa rupiah yang saya punya. Di tengah perbincangan saya
melihat teman sebelah saya yang sedang mempersiapkan sejumlah uang yang akan
diberikan. Saya sejenak berfikir bagaimana saya akan memberikan jika tidak ada
amplop yang menutupi. Serasa sungkan kalau langsung disalamkan. Niatku tidak
begitu bulat. Jadi sedikit bingung jadi memberikan sumbangan atau tidak. Sampai
akhirnya datanglah kepala sekolah beserta pimpinan Yayasan yang lainnya.
Bergegaslah kita untuk pulang. Seolah-olah memberikan tempat untuk bergantian
menjenguk. Padahal sebenarnya kita tidak merasa nyaman jika bersama-sama dengan
mereka. Saya beserta teman-teman yang lainpun terpaksa berpamitan untuk pulang
ditengah-tengah cerita kita yang begitu seru. Akhirnya saya bersalaman dengan
tangan kosong. Dan saya melihat ada satu teman yang memberikan amplop sambil bersalaman.
Setelah itu kita bersama-sama meninggalkan Rumah sakit itu.
Dalam
perjalan pulang saya mulai berpikir dan menyesal atas apa yang sudah saya
lakukan. Saya begitu menyesal dan baru menyadari betapa pelitnya saya sebagai
manusia. Betapa tidak bersyukurnya saya sebagai manusia yang diberi rezeki
lebih oleh Allah. Dan betapa malunya diri ini kepada Allah tidak membantu teman
yang sedang kesusahan. Saya merasa malu pada diri sendiri dan kepada teman
saya. Saya juga merasa iri, kenapa orang lain bisa berbuat baik terhadap sesama
dan kenapa saya tidak bisa?. Kenapa saya tidak bisa mencontoh apa yang telah
diajarkan ibu saya. Padahal tidak pernah sekalipun, Ibu saya mengajari hal-hal
yang tidak baik. Beliau selalu mengajarkan tentang sedekah. Beliau selalu menjelaskan
bagaimana orang-orang yang ikhlas bersedekah akan dipermudah dalam urusannya.
Tapi apa yang saya lakukan? Saya telah melupakan apa yang beliau pesankan dan
contohkan.
Di masa
mendatang, hari ini akan menjadi hari yang akan terkenang sepanjang masa. Hari
yang yang memalukan bagi saya. Dan semoga di hari berikutnya saya bisa memetih
hikmah dari kejadian yang saya alami hari ini. Bahwasannya seseorang harus
belajar bersedekah dari hal-hal kecil. Terutama dalam membantu teman yang
sedang kesulitan atau terkena musibah. Percayalah janji Allah itu byata dan
Allah akan mengganti apa yang kita berikan dengan sesuatu yang jauh lebih baik.
Allah akan melipatgandakan harta yang akan kita berikan. Karena sesungguhnya
dari harta yang kita peroleh ada hak-hak orang lain di dalamnya.
Semoga apa
yang saya tulis hari ini bermanfaat bagi para pembaca dan khusunya bagi saya.
Juga sebagai pengingat kita semua dalam melakukan kebaikan di mulai dari
hal-hal kecil.
Amiiiin ................ ya Rabbal ‘Aalamiin....
Wassalamualikum Warahmatullahi Wabarakatuh.............